ILUSTRASI
Aku belum pernah melihat hantu, tetapi temanku Richie berkata ia pernah melihatnya. Richie besar di New Orleans, dan ia berkata sesosok hantu tinggal di rumahnya. Ia melihatnya beberapa kali, dengan bayangan putih bersirnar, dan ia tidak takut sama sekali. Aku berakat, “Mungkin kau tidak takut, tetapi bagaimana kau mengusir sesosok hantu? Apakah kau menatapnya tajam-tajam? Apakah kau mengejarnya?”
Richie menggelengkan kepalanya. “Kita tidak dapat mengusirnya. Kami harus pindah.”
Aku ingat pembicaraan ini saat menulis cerita ini. Bagaimana kau mengalahkan hantu yang ingin memilikimu? Dapatkah kau memandangnya dengan tajam? Apa yang terjadi bila kau melakukannya?
Oleh John Jude Palencar
Mark dan aku benar-benar tidak ingin pergi mengikuti perjalanan kelas menuju pemakaman. Tetapi itu berarti kami keluar dari kelas, dan itu selalu menjadi hal yang menyenangkan.
Pemakaman Graystone berada di ujung jalan kami. Kami melewatinya setiap hari setiap kali pergi dan pulang sekolah. Itu adalah pemakaman yang sangat tua. Kami pergi ke sana untuk berziarah. Batu-batu nisannya sudah pecah, terbuka dan patah. Dan banyak orang berkata tempat itu berhantu.
Mark dan aku tidak percaya pada hantu. Tetapi kami selalu berjalan di seberang jalan. Mengapa harus mengambil resiko?
Mark dan aku adalah anak kembar. Orang-orang selalu mencoba melucu dan bertanya, “Apakah kalian kembar identik?” Ha ha. Mark adalah anak lelaki dan aku perempuan. Kami adalah Mark dan Lauren, si kembar dari keluarga Goodman. Aku suka menjadi anak kembar, kecuali untuk kelakar yang bodoh itu.
Salju turun semalaman, cukup untuk melapisi tanah dengan salju yang tipis. Sepatu kami berbunyi di atas jalan bersalju saat kelas sosial kami memasuki gerbang besi tua pemakaman.
Angin berhembus lewat pepohonan dan membuat ranting-ranting bergoyang, menebarkan butiran-butiran salju di atas kami saat berjalan. Aku menarik tudung kepalaku dan memakai sarung tanganku yang baru.
Aku suka dengan sarung tanganku yang baru. Bibi kesayanganku memberikannya pada ulang tahunku yang kedua belas. Sarung tangan itu cantik – kulit coklat yang halus di luar, dan berlapis dengan sejenis bulu di dalam yang membuat jari-jariku tetap hangat.
“Aku harap setiap orang membawa Penolak Hantu!” kata guru kami, Ibu Applebaum. Dari mana ia memiliki ide gila ini? Pergi ke pemakaman tua di hari yang terdingin sepanjang tahun untuk menjiplak kata yang tertulis di batu nisan?
“Apakah kalian tahu apa yang akan kalian lakukan bila melihat hantu?” Rachel Miller bertanya, berjalan di antara Mark dan aku.
“Yah. Lari!” jelas Mark.
“Tidak. Itu jelas-jelas salah,” Rachel memberitahunya. “Nenekku mengajarkanku ini. Kau harus memandangnya dengan pandangan hantu.”
Aku membelalakkan mata. “Pandangan hantu? Apa maksudnya itu?”
Rachel berhenti berjalan. Ia memegang bahuku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Kemudian ia mengangkat alis matanya dan membuka matanya lebar-lebar, selebar mungkin. “Lauren, inilah pandangan hantu.”
Mark tertawa. “Kau terlihat seperti orang aneh.”
“Jangan tertawa,” Rachel membentak. “Itu dapat menyelamatkan hidupmu. Nenekku mengetahui tentang hal-hal ini. Ia berkata untuk jangan pernah berlari. Tetapi, aku memandang hantu itu dengan pandangan hantu. Pandanglah sedalam mungkin, seakan kau memandang jiwa hantu itu.”
Rachel memandang Mark dengan mata lebar. “Jangan berkedip,” perintahnya. “Pandanglah pada jiwa hantu itu.”
“Mengapa cara itu berhasil?” tanyaku.
“Karena hantu-hantu sudah mati,” jawab Rachel, masih memandang Mark. “Mereka tidak memiliki jiwa. Pandanganmu tepat menembus mereka. Mereka tidak dapat bertahan. Itu membuat mereka takut dan menghilang.”
Rachel berbicara panjang lebar. Ia berpikir ia seorang ahli dalam segala hal. Aku tidak begitu menyukai Rachel. Ia berpura-pura menjadi temanku. Tetapi aku tahu itu hanya karena ia suka pada Mark.
“Bolehkah aku menjadi partnermu, Lauren?” tanya Rachel. “Ibu Applebaum berkata kita harus memiliki partner. Apakah kau percaya pada hantu? Aku percaya. Nenekku memberitahu bahwa ia pernah melihat mayat bangkit dari kuburan tua.”
“Ingat anjing keluarga Klavan?” tanya Mark. “Anjing itu suka berkeliaran di kuburan, dan kemudian suatu hari anjing itu menghilang. Hilary Klavan berkata bahwa hantu telah menarik anjingnya masuk ke dalam tanah. Hilary melihatnya! Itulah sebabnya ia mulai gagap.”
Aku memandang Mark dengan dahi berkerut. Aku tidak pernah mendengar cerita itu. Kurasa ia hanya mengada-ada untuk membuat Rachel terkesan.
Ibu Applebaum membuka gerbang besi, dan kami mengikutinya masuk ke dalam pemakaman. Barisan batu nisan hitam dan abu-abu terlihat di bawah lapisan salju yang tipis.
Batu-batu nisan tua itu lepas dari sudutnya, seperti gigi yang hampir tanggal. Hampir semua batu nisan retak dan patah. Beberapa telah lepas dan tertutup salju.
Kami melewati beberapa tanda sederhana dan salib tanpa penjelasan sama sekali. Membungkuk melawan angin, Ibu Applebaum memimpin kami mendaki bukit menuju pemakaman yang lebih besar. Banyak anak-anak yang sudah mulai menjiplak tulisan di batu nisan. Dan ada penjelasan panjang di atas batu nisan itu.
“Hari ini terlalu dingin bagi hantu untuk keluar!” ibu Applebaum berkelakar. “Mari kita mulai bekerja, anak-anak!”
Kami berpencar. Rachel dan aku berjalan di sisi bukit yang lain. Aku berpikir angin di sekitar ini tidak begitu kencang, tetapi aku keliru. Angin yang kuat menyingkapkan tudung kepalaku. Rambut merahku yang panjang berkibar seperti bendera.
Kami menjejakkan langkah kami di atas jalan bersalju, membungkuk untuk membaca tulisan tua di atas nisan-nisan. Beberapa batu nisan berasal dari tahun 1600-an.
“Tidak ada yang menarik di sini,” keluh Rachel. “Mari kita mencoba batu nisan yang tua di bawah sana.”
Kami berhenti di kubur pertama yang kami datangi. Batu nisan tua yang kecil itu telah retak dan rusak. Aku berlutut untuk membaca tulisan di batu nisan itu: ABIGAIL WILLEY. 1680-1692. BERISTIRAHAT DI SURGA, ANAK.
“Waw!” teriakku, memandang tahun yang tertera di atas batu. “Rachel – ia seumur kita!”
Rachel membungkuk untuk membacanya juga. “Aku bertanya-tanya bagaimana ia meninggal, Lauren. Setiap orang meninggal dalam usia yang sangat muda hari-hari itu.” Rachel membuka tas punggungnya dan mengeluarkan kertas. “Mari kita kerjakan yang satu ini. Ini kuburan yang paling menarik.”
Angin dingin bertiup di sekeliling kami. Rachel berusaha menahan kertasnya di atas batu supaya aku dapat menggosoknya. Tetapi kertas itu tetap berkibar tertiup angin kencang.
“Aku akan membantu,” usulku. Aku membuka sarung tanganku, menahan kertas itu bersama. Kemudian aku berjongkok di sisi Rachel, dan kami bekerja bersama untuk menjiplak tulisan.
Kami hampir selesai saat kami melihat Ibu Applebaum datang bergegas, melangkahi rerumputan yang bersalju. “Maaf, tapi kita lebih baik pergi dari sini,” katanya sambil menyibakkan rambut dari wajahnya. “Ini ide yang buruk. Hari ini terlalu dingin dan banyak angin. Kita semua akan masuk angin bila kita tidak segera kembali ke sekolah.”
Rachel dan aku berkemas. Aku memasang kembali tudung kepalaku. Aku gemetar, kakiku membeku dan wajahku dingin, dan bergegas menyusul anak-anak yang lain, ingin segera keluar dari hawa dingin ini.
***
Sebelum makan malam aku menyadari kalau aku telah meninggalkan sarung tanganku di pemakaman. Ayah dan ibu sedang bersama kelompok diskusi bacaan mereka. Mark dan aku seharusnya mengerjakan PR kami, tetapi kami menonton TV. Laporan cuaca setempat baru saja ditayangkan.
Aku meloncat dan merapikan baju hangatku. “Mark, aku harus kembali ke pemakaman dan mengambil sarung tanganku.”
Mark mengalihkan pandangannya dari buku PR aljabarnya ke arahku. “Kau bercanda, kan?”
“Itu sarung tangan terbaikku!” kataku. “Sarung tangan yang terhangat yang kupunya. Aku sangat menyukai sarung tangan itu. Aku tidak dapat meninggalkannya di sana.”
Mark berbalik ke PR nya. “Kita akan mengambilnya pagi hari.”
“Tidak bisa!” paksaku. “Laporan cuaca di TV mengatakan bahwa akan turun salju malam ini. Sarung tangan itu akan rusak.” Aku membuka lemari mantel dan mengeluarkan mantelku. “Apakah kau akan menemaniku atau tidak?”
Ia ragu-ragu, menggigiti ujung pensilnya. Akhirnya ia berhenti menggigiti pensilnya dan berkata, “Baiklah. Kurasa. Aku tidak dapat membiarkanmu sendirian.”
Mark anak yang jantan.
Angin berhenti berhembus kencang, tetapi udara malam terasa seperti es dan lembab. Bulan kecil menyinari kami di antara awan-awan kelabu. Lapisan salju yang tipis telah padat dan mengeras menjadi es.
Kami tergelincir saat berjalan. Pagar rendah dari pemakaman Graystone mulai terlihat.
“Kau ingat di mana kau meninggalkan sarung tanganmu?” tanya Mark. Wajahnya tersembunyi di dalam tudung kepalanya yang besar. Ia tetap menerangi jalan di depan kami dengan senternya.
Aku merinding. “”Di atas batu nisan seorang anak perempuan. Hanya butuh waktu satu detik.”
Aku mencoba membuka gerbang pemakaman itu. Gerbang itu tertahan di salju yang mengeras. Aku menarik gerbang itu lagi dengan segenap tenagaku, dan berhasil membukanya.
Lingkaran cahaya senter menari-nari di atas batu-batu nisan saat Mark dan aku mendaki bukit yang miring. Awan kelabu menutupi bulan, dan kegelapan menutupi kami. Udara bertambah dingin.
Aku mengelus hidungku. Rasanya mulai kaku karena kedinginan. “Di bawah bukit ini,” kataku.
Di sekeliling kami pepohonan berderit dan bergoyang. Angin membuat suara yang menyeramkan, seperti desahan pelan manusia.
Aku menuruni bukit dan menuju pemakaman Abigail Willey. “Di sini,” kataku.
Mark menyorotkan lampu senternya. Aku berhenti dan melihat ke atas batu nisan. “Sarung tangan itu telah hilang!” teriakku, mengangkat tanganku untuk menutupi pipiku yang membeku. “Sarung tangan itu tidak ada di sana! Aku meninggalkannya di atas batu nisan ini!”
Mark menyorotkan senternya di depan batu nisan itu. “Angin mungkin telah menerbangkannya. Carilah di tanah.”
“Oh. Baik. Sarung tangan itu pasti ada di tanah,” gumamku. Aku melangkah ke sekeliling kuburan tiu, mataku menjelajah di tanah bersalju.
Angin berhembus kembali. Pohon-pohon berbunyi dan bergerak. Aku mendengar pekikan di kejauhan. Mungkin seekor kucing.
Sambil membungkuk, aku mengitar kuburan itu. “Di mana sarung tanganku?”
“Mungin terbang ke bawah bukit,” usul Mark. Ia menarik tudung kepalanya lebih ketat ke wajahnya. Kemudian ia berjalan dengan pelan menuruni bukit, menyorotkan senter dari satu sisi ke sisi lain di tanah.
“Di mana sarung tanganku? Di mana?” aku mengulangi, mengelus hidungku dan wajahku yang membeku.
Aku hampir bertabrakan dengan seorang anak perempuan.
Rambutnya yang hitam dan panjang menutupi wajahnya. Ia memakai baju yang tipis berlengan panjang dan rok berlipat yang panjang sampai ke tanah. Ia berdiri sangat kaku dan tegak, tangannya ada di belakangnya.
“Siapa kau?” aku terkejut.
Dan kemudian angin berhembus menyibakkan rambut itu dari wajahnya.
Aku menatap –
- menatap dengan ketakutan – pada wajah tengkoraknya. Tidak ada kulit. Tidak ada bibir di atas giginya yang rusak. Tidak ada mata. Hanya lubang mata yang kosong, sangat gelap dan dalam.
“Aku adalah Abigail,” ucapnya dengan suara yang kering, sekering amplas dan daun-daun kering.
Dan kemudian ia mengangkat kedua lengannya. Tidak ada kulit di lengannya juga. Hanya tulang. Dan di ujung lengannya yang bertulang keabuan – ada sarung tanganku!
Ia menghampiriku saat aku berdiri di sana membeku dengan ketakutan.
“Aku sangat kedinginan,” ia mengeluh. “Sangat dingin di sini, Lauren …”
“T-tolong …” bisikku, memandang sarung tanganku. Sarung tangan di ujung lengan bertulangnya …
“Aku butuh mantelmu!” keluhnya, meraih dengan tangannya yang bersarung tangan.
Lubang mata yang kosong dan dalam itu … kepala tengkorak yang menengadah ke arahku dengan rambutnya yang berkibar …
“Lauren, aku butuh baju hangatmu …”
“Tidak! Tolong!”
Aku berbalik, mencari Mark. “Mark!” aku berteriak saat aku melihatnya berlari, berlari dengan kecepatan penuh, berlari dari tengkorak yang tinggi dengan jaket hitam.
Pergi! Aku memerintahkan diriku. Lauren – pergi sekarang!
Tetapi kakiku sangat gemetar. Kakiku tidak dapat bergerak.
“Lauren, aku butuh baju hangatmu …”
“Tidak –berhenti!”
Jari dalam sarung tangan itu menyambarku.
“Lauren, aku butuh pakaianmu … Lauren … sangat dingin di sini … aku butuh jaketmu .. aku butuh baju hangatmu …”
“Tidak! Menjauhlah dariku!” aku memekik.
“Lauren, aku butuh sepatumu …” Tangannya menyambar rambutku.
“Lauren, aku butuh kulitmu!”
Jari bersarung tangan itu memegang rambutku dan mulai menariknya.
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!”
“Lauren, aku butuh kulitmu. Lauren, aku butuh tubuhmu!”
“Ohhhh.” Aku berteriak ketakutan.
Dan kata-kata Rachel melintas di benakku. Pandangan hantu itu.
Nasehat yang diberikan nenek Rachel: Jangan lari. Pandanglah mata hantu itu. Pandanglah seakan menyelidiki jiwanya.
Akankah berhasil?
Aku tidak mempunyai pilihan. Hantu Abigail menarikku lebih dekat … lebih dekat.
Aku menarik kepalaku, mengangkat mataku ke lubang matanya yang kosong – dan menatap. Aku menatap dengan mata lebar, tanpa berkedip, di dalam lubang gelap dan dalam itu. Memandang seakan aku menyelidiki jiwa Abigail.
Ia berhenti menarikku. Kami berdua membeku, seperti patung di pemakaman.
Tulang rahangnya bergemeretak dan terbuka. Rambut hitamnya berkibar dari tengkoraknya.
“Lauren …” gumamnya. “Lauren …”
Dan kemudian tangannya melepaskan rambutku dan jatuh di sisi pakaiannya yang bernoda dan usang.
Dan aku masih menatap, menatap tanpa berkedip. Memandang dalam-dalam ke lubang matanya yang kosong.
Pandangan hantu …
Ia mulai menunduk … lebih rendah … lebih rendah …
Rambutnya menutupi wajahnya lagi. Bahunya berbunyi saat ia menurunkan tangannya. Lebih rendah … aku memperhatikannya ia mundur ke batu nisan … tenggelam kembali ke dalam kuburnya.
“Lauren …?” ia membisikkan namaku sekali lagi.
Dan kemudian ia menghilang.
Aku mulai bernafas lagi, menghirup udara yang dingin dalam-dalam.
Dan kemudian aku berlari! Sepatuku menjejak keras di atas tanah bersalju. Aku mendengar Mark berlari di belakangku, sepatu kami berdebum bersama seperti pukulan drum.
Aku tidak berhenti atau memperlambat lariku sampai kami tiba di rumah. Aku menerobos pintu depan, hatiku berdegup kencang, tubuhku sakit.
Aku berdiri di ruang duduk, membungkuk, menekan lutut dengan kedua tanganku, menarik nafas. “Pandangan itu …” kataku. “Aku tidak dapat mempercayainya! Pandangan itu bekerja! Pandangan hantu. Kau menggunakannya juga – kan?”
Masih terengah-engah, aku menoleh ke arah Mark.
Dan berteriak.
Teriakan ketakutan – saat aku memandang tubuh yang terbungkus jaket hitam, berwajah tengkorak, cacing coklat yang gemuk melingkar di mulutnya yang terbuka. Memandang tengkorak yang botak. Memandang lubang mata yang kosong dan dalam.
“Di mana Mark? Apa yang kau lakukan pada Mark?” aku berteriak. “Ini bukan tempatmu! Di mana Mark?”
Rahang tengkorak itu terbuka, dan nafas yang berbau busuk keluar dari dalam perut hantu yang membusuk itu.
“Di mana saudaraku?” aku meratap. “Apakah ia kembali ke pemakaman? Apa yang kau inginkan? Apa yang kau inginkan?”
Sebelum aku dapat bergerak, hantu itu berjalan ke arah dinding. Ia mengangkat tangan bertulangnya ke stop kontak lampu – dan memadamkan lampu.
Kami berdiri dalam kegelapan total sekarang.
“Me-mengapa kau melakukan itu?” bisikku.
“Lauren, tidak sopan untuk MEMANDANG!” geramnya.
Dan kemudian aku merasakan tanggannya yang bertulang keras melingkari tenggorokanku.
“Lauren, aku sangat kedinginan …” ia bergumam. “Lauren … aku butuh baju hangatmu … Lauren, aku butuh rambutmu. Lauren … aku butuh kulitmu!”


Kenalkanlah seorang princess bernama Adilla nurul ilma. Dia tinggal bersama family-nya di kota terpencil yaitu di Duri, Riau, Seorang princess yang biasa dipanggil Adilla atau Dilla ini mempunyai hobi yaitu Menggambar, Menulis, chatting, juga membaca. Dia bersekolah di SDIT 031 mutiara kelas 3. Usianya masih 8 tahun,, si Princess ini sangat suka alam. Suka sekali berpetualangan, Si Princess ini mampu mengatasi masalahnya. Panggil saja Princess Dilla. Princess Dilla mempunyai chat room .. kalau mau, klik aja deh yang dibawah ini.. adilla.nurulilma@yahoo.com Si Princess juga mempunyai blog, dia menyukai karakter barbie. Princess, winx club, fulla, dan masih banyak lagi! kebangsaanya ? tentu saja indonesia. Negara yang asri dan damai serta tentram, indah ditatap mata ini (deuu)
I'M 100 % REAL











Terimakasih E-smartschool tentang info-info didalamnya yang sungguh bermanfaat